Blog

Pemeliharaan Alat Pemadam Kebakaran

Cara menanggulangi kebakaran

Alat pemadam kebakaran dan Cara menanggulangi kebakaran
  • Minimal harus mempunyai alat pemadam kebakaran ringan
  • Tetap tenang saat menghadapi kebakaran.
  • Jika kebakaran kecil dan masih bisa diatasi, segera padamkan dengan alat pemadam kebakaran yang ada seperti APAR (Alat Pemadam Api Ringan) atau jika tidak memiliki APAR, Anda juga bisa memadamkan api dengan menggunakan karung goni yang dibasahi air.
  • Jika kebakaran disebabkan oleh korsleting listrik, segera matikan listrik di rumah.
  • Tutup ruangan lokasi kebakaran agar tidak menjalar ke ruang lain tetapi jangan dikunci, untuk memudahkan jika akan memadamkan kobaran api.
  • Jika kebakaran besar, segera keluar rumah dan ajak semua keluarga meninggalkan rumah segera. Jangan sibukkan diri untuk mengumpulkan barang di dalam rumah.
  • Hindari menghirup asap yang tebal, misalnya dengan cara merangkak dan bernafas dengan mendekatkan muka ke lantai, gunakan kain basah sebagai penutup hidung, hal ini akan membantu Anda untuk bernafas.
  • Jika Anda melalui pintu yang tertutup, periksalah dengan seksama suhu daun pintu dengan menempelkan belakang telapak tangan Anda. Kemudian periksa handle pintu. Jika terasa panas pindah melalui jalur lain.
  • Jika perlu lakukan latihan evakuasi jika terjadi kebakaran agar upaya penyelamatan dapat berjalan lebih cepat.
  • Segera hubungi pemadam kebakaran 113, jika api tidak dapat dikendalikan sendiri
Read more...

Definisi Fire Alarm System

Definisi fire alarm system adalah sistem pendeteksi keberadaan api secara otomatis dengan melihat perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan sekitar yang berkaitan dengan kebakaran. Perubahan pada lingkungan sekitar dapat diasumsikan sebagai tanda pendeteksi bahaya kebakaran. Perubahan yang mungkin terjadi misalnya adalah munculnya asap, meningkatnya suhu ruangan, dan munculnya api ataupun gas. Maka dari itu, sebuah fire alarm system selalu dilengkapi dengan sensor yang peka terhadap keberadaan asap, panas, api, maupun gas. Fire alarm system ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sistem konvensional dan addressable. Sistem konvensional umumnya digunakan pada bangunan yang tidak terlalu besar sedangkan sistem addressable dapat digunakan pada bangunan besar karena sistemnya menggunakan kode digital yang dapat mendeteksi langsung lokasi terjadinya kebakaran pada suatu bangunan. Sistem addressable hanya terhubung dalam satu panel alarm yang biasanya ditempatkan di ruangan kontrol. Pada sistem konvensional, tiap zona membutuhkan panel alarm sendiri. Oleh karenanya, fire alarm system konvensional ini terbatas apabila digunakan pada bangunan-bangunan besar.Pada bangunan besar, sensor asap, panas, maupun api yang terdapat di seluruh bangunan terhubung kepada satu panel alarm utama.  Penggunaan sensor pada fire alarm system disesuaikan dengan karakteristik ruangan. Sensor asap tidak dapat diletakkan di dapur, karena dapur merupakan penghasil asap. Sebaiknya pakailah sensor pendeteksi api atau gas. Begitu pula pada kondisi ruangan panas, detektor yang paling sesuai digunakan adalah sensor gas dan asap. Komponen yang terdapat pada fire alarm system adalah Manual Call Point yang apabila kaca bagian tengah dipecahkan dapat mengaktifkan sirine tanda kebakaran. Komponen selanjutnya adalah Fire Bell yang berfungsi untuk mengeluarkan suara nyaring pada saat terjadi kebakaran. Komponen terakhir yang terdapat pada fire alarm system adalah Indicator Lamp yang memiliki dua buah fungsi, pertama yaitu sebagai tanda aktifnya sebuah fire alarm system dan yang kedua adalah sebagai penanda adanya kebakaran.Dari definisi fire alarm system tadi, diketahui bahwa sistem ini memiliki cara kerja yang berbeda dengan sistem pemadam kebakaran. Kedua sistem ini berdiri secara mandiri. Fire alarm system bukan alat pemadam kebakaran. Tujuan dari fire alarm system ini sendiri adalah untuk menginformasikan kebakaran kepada seluruh penghuni bangunan melalui sistem alarm agar dapat segera mengevakuasi diri dan mengosongkan bangunan. Fire alarm system sangat diwajibkan untuk dipasang pada gedung-gedung penting dan yang bersifat publik seperti rumah sakit, bank, hotel, pusat perbelanjaan dan sebagainya. Definisi fire alarm system perlu dipahami agar masyarakat cepat tanggap saat terjadi kebakaran.
Read more...

Pengertian APAR (Alat Pemadam Api Ringan)

Pengertian  APAR (Alat Pemadam Api Ringan)  adalah  Alat pemadaman yang bisa dibawa / dijinjing dan gunakan / dioperasikan oleh satu orang dan berdiri sendiri. Apar merupakan alat pemadam api yang pemakaiannya dilakukan secara manual dan langsung diarahkan pada posisi dimana api berada. Apar dikenal sebagai alat pemadam api portable yang mudah dibawa, cepat dan tepat di dalam penggunaan untuk awal kebakaran, selain itu karena bentuknya yang portable dan ringan sehingga mudah mendekati daerah kebakaran. Dikarenakan fungsinya untuk penanganan dini, peletakan APAR-pun harus ditempatkan di tempat-tempat tertentu sehingga memudahkan didalam penggunaannya.
Fungsi / kegunaan APAR :
Untuk mencegah dan memadamkan kebakaran Api dalam jumlah kecil.
Pemasangan dan penempatan APAR :
a. Setiap APAR dipasang pada posisi yang mudah dilihat dan dijangkau
b. Pemasangan APAR harus sesuai dengan jenis benda / tempat yang dilindungi
c. Setiap APAR harus dipasang menggantung
d. Pemasangan APAR dengan ketinggian max. 1,2 mtr e. Pemasangan APAR tidak boleh diruangan yang mempunyai suhu lebih dari 49º C dan di bawah 4º C
Persyaratan Teknis APAR :
1. Tabung harus dalam keadaan baik ( tidak berkarat )
2. Dilengkapi dengan etiket cara – cara penggunaan yang memuat urutan singkat dan jelas tetang cara penggunaannya
3. Segel harus dalam keadaan baik
4. Tidak ada kebocoran pada membran tabung gas tekanan tinggi ( Cartridge )
5. Slang harus dalam keadaan baik dan tahan tekanan tinggi.
6. APAR jenis busa / foam, tabung dalamnya tidak bocor serta lubang pengeluaran tidak tersumbat
7. Bahan baku pemadaman harus selalu dalam keadaan baik
8. Tutup tabung harus baik dan tertutup rapat 9. Warna tabung harus mudah dilihatJenis-jenis APAR
APAR (Alat Pemadam Api Ringan) terdiri dari beberapa jenis, antara lain :1. Jenis Air (Water). APAR jenis air terdapat dalam bentuk stored pressure type (tersimpan bertekanan) dan gas cartridge type (tabung gas). Sangat baik digunakan untuk pemadaman kelas A.
2. Jenis Busa (Foam). Jenis busa adalah bahan pemadam api yang efektif untuk kebakaran awa minyak. Biasanya digunakan dari bahan tepung aluminium sulfat dan natrium bicarbonat yang keduanya dilarutkan dalam air. Hasilnya adalah busa yang volumenya mencapai 10 kali lipat. Pemadaman api oleh busa merupakan sistem isolasi, yaitu untuk mencegah oksigen untuk tidak ikut dalam reaksi.
3. Jenis Tepung Kimia Kering (Dry Chemical Powder). Jenis ini efektif untuk kebakaran kelas B dan C dan juga bisa kelas A. Tepung serbuk kimia kering berisi dua macam bahan kimia, yaitu Sodium Bicarboanat & Natrium Bicarbonat, Gas CO2 atau nitrogen sebagai pendorong. Khusus untuk pemadaman kelas D (logam) seperti Magnesium, Titanium, Zarcanium, dan lain-lain digunakan metal-dry powder yaitu campuran Sodium, Potasium, dan Barium Chloride.4. Jenis Halon. APAR jenis ini efektif untuk menanggulangi kebakaran jenis cairan yang mudah terbakar dan peralatan listrik bertegangan (kebakaran kelas B dan C). Bahan pemadaman api gas Halon biasanya terdiri dari unsur-unsur kimia seperti chlorine, flourine, bromide dan iodine.
5. Jenis CO2.
Bahan pemadam jenis CO2 efektif untuk memadamkan kebakaran kelas B (minyak) dan C (listrik). Berfungsi untuk mengurangi kadar oksigen dan efektif untuk memadamkan kebakaran yang terjadi di dalam ruangan (indoor). Pemadaman dengan gas arang ini dapat mengurangi kadar oksigen sampai dibawah 12%.
 
Read more...

Cara mencegah terjadinya kebakaran

Cara mencegah kebakaran:1. Alarm Asap atau Smoke Alarms
  • Pasang alarm asap di setiap ruang, terutama ruangan dapur, ruang tidur, dan di tiap lantai. Untuk perlindungan terbaik, Anda bisa mempararelkan semua alarm asap di dalam rumah, jadi ketika satu alarm menyala maka alarm lain juga ikut menyala.
  • Lakukan pengecekan alarm asap paling sedikit sebulan sekali dengan menggunakan tombol pengetesan. Ganti alarm asap setiap 10 tahun.
  • Pastikan setiap orang dapat mendengar bunyi alarm. Alarm asap yang dapat bersuara lebih efektif untuk anak yang sedang tidur.
  • Buat rencana evakuasi kebakaran rumah. Miliki paling sedikit 2 jalan keluar di tiap ruangan, jika memungkinkan, dan di luar tempat pertemuan. Praktekkan rencana tersebut dua kali setahun.
  • Ketika alarm asap berbunyi, segera keluar rumah dan selalu tetap berada di luar.
2. Listrik
  • Jauhkan lampu dari benda apapun yang dapat terbakar seperti pelindung lampu, kasur, gorden, dan pakaian.
  • Ganti kabel listrik yang rusak dan retak.
  • Gunakan sambungan kabel hanya untuk pengkabelan yang sifatnya sementara.
  • Pertimbangkan menggunakan sirkuit tambahan yang dibuat oleh tukang listrik yang mahir.
  • Hubungi tukang listrik yang mahir jika Anda memiliki masalah dengan fuse atau braker listrik yang turun atau sesuatu yang berbau terbakar pada alat listrik Anda.
3. Merokok
  • Jika Anda merokok, merokoklah di luar rumah atau ruangan khusus merokok.
  • Gunakan asbak rokok yang dalam dan tidak mudah terbakar.
  • Jangan pernah merokok di dalam rumah ketika oksigen digunakan
  • Simpan korek di dalam lemari terkunci dan jauhkan dari jangkauan anak-anak.
  • Jangan merokok di tempat tidur atau ketika Anda merasa ngantuk.
4. Dapur
  • Jangan tinggalkan dapur dalam keadaan kompor menyala. Matikan kompor lalu angkat panci, wajan dan alat-alat dapur lainnya. Begitu juga jika menggunakan oven, keluarkan makanan dan matikan oven.
  • Jauhkan kompor dari barang-barang yang mudah terbakar, seperti lap, sarung tangan oven, bahkan gorden dapur.
Read more...

Penjelasan tentang penggunaan APAR

Fire Extinguisher atau Alat Pemadam Api Ringan (APAR) merupakan alat pemadam api yang pemakaiannya dilakukan secara manual dan langsung diarahkan pada posisi dimana api berada. APAR disediakan pada tempat-tempat strategis yang disesuaikan dengan peraturan Dinas Pemadam Kebakaran : Untuk setiap 200 m2 ruang terbuka disediakan 1 unit APAR type A dengan jarak antara setiap unit maksimum 20 meter.Untuk ruang yang dilengkapi dengan pembagi / pembatas ruang, disediakan 1 unit APAR type A tanpa memperhatikan luas ruang. Untuk daerah/ruang mekanikal-elektrikal berskala kecil disediakan 1 unit APAR type A dan 1 unit APAR type B. Untuk daerah/ruang mekanikal-elektrikal berskala besar disediakan 1 unit APAR type A, 1 unit APAR type C dan 1 unit APAR type D. PERALATAN UTAMA & FUNGSI APAR Type A : Multipurpuse Dry Chemical Powder 3,5 kg APAR Type B : Gas CO2 6,8 kg APAR Type C : Gas CO2 10 kg APAR Type D : Multipurpuse Dry Chemical Powder 25 kg (dilengkapi dengan trolley).Kelas-kelas Api dan media pemadamnya
KELAS “A” (Api pepejal) solid fire - Api kayu - Api kertas - Api Sampah - Api kain
Air & Debu kering  KELAS “B” (Api Cecair) Liquid Fire - Api Minyak - Api Cat - Api Varnish
Buih, Debu kering dan Varpourising liquid KELAS “C” (Api Wap dan Gas) gas & Stim Fire - Butana - Propane - Oxy acetalane - Gas (LPG)
Debu kering, Karbon Dioksida (Co2) & Varpourising liquid KELAS “D” (Api Logam) Matel Fire - Potaosium - Sodium - Kalsium - Magnesium
Soda Ash, Pasir, Debu Kering & Matel serta Powder Api Elektrik Kebakaran ini tidak termasuk dalam kelas-kelas api dan boleh dipadam dengan menggunakan alat pemadam api yang sesuai. Debu Kering, Karbon Dioksida & Varpourising liquid ALAT PEMADAM API JENIS AIR Kandungan Air Biasa – 9 Liter Jarak Pancutan 20’ – 25’ Jangka masa Pancutan 60 – 120 Saat KEBAIKAN KEBURUKAN - Mudah dikendalikan - Boleh mengawal/memadam api di peringkat awal - Cecair yang digunakan tidak berbahaya - Hanya sekali digunakan - Tidak sesuai memadam kebakaran alat elektrik dan logam - Tidak boleh diletakkan ditempat yang suhunya sejuk dan boleh
    membeku - Tidak boleh mengawal dan memadam kebakaran yang besar
   ALAT PEMADAM API JENIS DEBU KERING
   (DRY POWDER)Kandungan - Sodium bikarbonat 97% - Magnesium stearote 11/2% - Magnesium karbonat 1% - Trikalsium karbonat  ½% Jarak Pancutan 15’ – 20’ Jangka masa Pancutan 2 Menit KEBAIKAN KEBURUKAN - Mudah dan senang dikendalikan - Boleh mengawal / memadam api kelas A,B,C dan sungguh berkesan - Pemadamannya lebih berkesan jika dibandingkan dengan alat pemadam api jenis Co2 dan BCF - Pengeluaran (pancutan) boleh dikawal di Release Handle. - Hanya boleh sekli sahaja. - Debunya mendatangkan kerosakan pada bahan-bahan tertentu seperti enjin kereta, bahan makanan dll - Tidak boleh memadam api logam - Tidak boleh diletakkan ditempat yang suhunya sejuk dan boleh membeku PerhatianPenempatan alat-alat pemadaman api hendaklah diletakkan pada tempat yang boleh dilihat dan digantung supaya alat ini tidak rosak pada tabung dan juga isi kandungannyaPemeriksaan1. Hendaklah diperiksa setiap bulan2. Pastikan preasure guage pada tabung menunjukan kandungan penuh (hijau – penuh & merah – kosong). Sekiranya berlaku kekurangan tekanan udara hendaklah dihantar ke agen servis ALAT PEMADAM API JENIS GAS (Co2 & BCF)Kandungan - dalam tabung diisi dengan Co2 dalam bentuk cecair dalam tekanan. - Mempunyai ukuran antara 2 hingga 5 ibs beratnya. Jarak pancutan 8’ ke 12’ dan perkembangan nisbahnya ialah 1:450 Jangkamasa pancutan 8 hingga ke 30 saatKEBAIKAN KEBURUKAN - Mudah dikendalikan - Boleh mengawal/memadam kebakaran diperingkat awal dan berkesan - Gasnya bersih tidak membantu kebakaran - Gasnya tidak mengalirkan elektrik - Boleh menembusi tempat-tempat permukaan kecil - Hanya sekali digunakan - Keberatan silindernya tidak sepadan dengan kandungan gas, berat 5.3 kg tetapi Cuma 2.2 kg sahaja. - Kandungan gas tidak dapat dilihat dan perlu ditimbang dari masa ke semasa untuk mengelakan kekurangan daripada 10% - Tidak sesuai memadam kebakaran api jenis A,B &D - Tidak boleh mengawal kebakaran yang sudah besar ALAT PEMADAM API JENIS BUIH (Foam)Sesuai untuk memadam api kelas ‘B’ dan peranannya menyelimut dan menurunkan suhu dibawah suhu nyalaan (menyejukkan).Kandungan - Terdapat 2 tabung - Tabung dalam (Alauminium Sulphate) - Tabung luar (Sodium Bikarbonate / Stabilizer) Jarak Pancutan Lebih kurang 20’ Jangkamasa Pancutan 30 hingga ke 90 saat.KEBAIKAN KEBURUKAN - Mudah dikendalikan - Buih boleh menutup permukaan cecair dan menyekat bekalan oksigen daripada membantu kebakaran - Tidak terganggu daripada tiupan angin - Boleh mengawal dan memadam kebakaran diperingkat awal dengan berkesan. - Hanya sekali digunakan - Tidak boleh memadam kebakaran kelas A,C dan D - Sekiranya percampuran bahan kimia tidak betul, buihnya tidak dapat memadam kebakaran dengan berkesan - Tidak sesuai digunakan dengan alat memadam api jenis dry powder kerana powder akan memecahkan buih.CARA MENGGUNAKAN ALAT PEMADAM APITerdapat pelbagai jenis serta saiz alat pemadam api. Cara penggunaan atau pengendaliannya adalah seperti berikut:-1. Pilih jenis alat pemadam api yang sesuai 2. Ikut arah angin semasa menggunakannya 3. Praktikkan penggunaan kaedah PASSKAEDAH/ SISTEM P.A.S.SP – Pull Tarik / cabut pin keselamtanA – Aim Arahkan nozel ke arah punca apiS – Squeeze Tekan pemegang “lever”dimana agen pemadaman akan dipancutkan keluarS – Sweep Layangkan nozel / hos kekiri dan ke kanan bagi menyegerakan proses pemadaman
-Banyak problematika saat menggunakan Alat Pemadam yang bermedia Dry Chemical Powder (DCP). Keluhan para konsumen pemakai Apar DCP timbul saat mereka menggunakan untuk memadamkan kebakaran. Jadi kita perlu pertimbangan teknis yang matang sebelum memutuskan menggunakan apar jenis DCP. Masalah yang timbul dalam pemakaian DCP antara lain:
  1. Macet pada saat digunakan. Kondisi ini timbul karena secara material, powder berupa serbuk yang pada dasarnya akan menggumpal jika terkena hawa dingin atau dibiarkan saja tanpa di kocok-kocok. Apalagi untuk Apar DCP yang menggunakan tekanan langsung CO2 atau N2 secara otomatis terkena efek dingin. Akibatnya DCP akan menggumpal. Jika dipakai maka yang keluar hanya gas pendorongnya saja.
  2. Apar DCP harus dikocok. Maintenance apar DCP memang harus dikocok sebulan sekali minimal 15 kali kocokan agar tidak menggumpal. Kondisi ini membuat para pengusaha harus menyediakan tenaga maintenance tersendiri. Bisa dibayangkan jika dalam perusahaan ada 20 atau lebih apar DCP dengan variasi berat 6-20 Kg, maka berapa waktu dan tenaga yang terbuang sia-sia untuk maintenance.
  3. Adanya petugas maintenance yang nakal, aparnya tidak dikocok, namun dalam ceklist rutin ditulis sudah dikocok. Hasilnya apar menggumpal dan macet. Ironisnya kemacetan ini baru diketahui saat latihan atau pemakaian saat kebakaran.
  4. Tidak bisa melakukan kontrol secara visual. Pada pemakaian apar DCP model catridge, konsumen tidak bisa mengetahui apakah tekanan gas CO2 (untuk pendorongnya) masih ada atau sudah habis. Mereka baru bisa mengetahui pada saat digunakan. Baik saat latihan atau saat kebakaran. Hasilnya saat dipakai media DCP tidak keluar sama sekali. Kejadian lain dalam pemakaian apar DCP model catridge.
  5. Tekanan CO2 bocor. Sering kali pada saat penggunaan apar DCP catridge, gas pendorongnya (CO2) bocor. Hasilnya media tidak keluar sama sekali.
  6. Terjadinya penyalaan ulang. Jika terjadi kebakaran, bahan yang terbakar masih bisa menyala kembali. Karena DCP tidak memiliki formula anti penyalaan ulang.
  7. Terjadinya kerusakan sekunder (colateral damage). Dapat dipastikan Mesin produksi dan alat elektronik rusak akibat korosif yang ditimbulkan oleh DCP.
  8. Bahan baku atau material produksi rusak jika terkena DCP. Bahan baku yang sudah terkonaminasi serbuk DCP  pasti rusak dan harus dibuang.
  9. Kotor dan susah dibersihkan. Ruangan atau tempat yang terkena DCP sangat susah dibersihkan apalagi secara kimia, serbuk DCP yang terkena panas akan lengket seperti lem.
  10. 90 % kebakaran terjadi di dalam ruangan. Sering kita temui demo DCP dilakukan di ruang terbuka, padahal kebakaran 90 % terjadi di dalam ruangan. Bisa dibayangkan jika ruangan yang terbakar sudah dipenuhi racun asap, ditambah lagi dengan serbuk DCP, kondisi ini sangat membahayakan pemakai (sesak nafas, perih dimata dan merusak paru-paru). Ibarat orang buta disuruh memadamkan api. Bahkan ada satu insiden kebakaran yang menewaskan 1 pekerja. Tewasnya pekerja itu akibat terkena lempengan tabung catridge yang jebol (korosif).
Ternyata efek berantai yang ditimbulkan oleh apar DCP banyak merugikan pengusaha dan pekerja daripada kemampuan memadamkan apinya. Biaya yang dikeluarkan setelah pemakaian DCP sangat besar dibandingkan harga DCP yang murah meriah. Belum lagi jika terjadi korban jiwa akibat menghirup DCP, tentu biaya dan waktu yang dikeluarkan akan tambah menyita energi pengusaha.
Read more...

Syarat Penempatan dan Pemasangan apar

Persyaratan tersebut antara lain :

  1. Mudah dilihat, diakses dan diambil serta dilengkapi dengan tanda pemasangan APAR / Tabung Pemadam.
  2. Tinggi pemberian tanda pemasangan ialah 125 cm dari dasar lantai tepat di atas satu atau kelompok APAR bersangkutan (jarak minimal APAR / Tabung Pemadam dengan laintai minimal 15 cm).
  3. Jarak penempatan APAR / Tabung Pemadam satu dengan lainnya ialah 15 meter atau ditentukan lain oleh pegawai pengawas K3 atau Ahli K3.
  4. Semua Tabung Pemadam / APAR sebaiknya berwarna merah.

Syarat Tanda Pemasangan APAR / Tabung Pemadam :

  1. Segitiga sama sisi dengan warna dasar merah.
  2. Ukuran tiap sisi 35 cm.
  3. Tinggi huruf 3 cm berwarna putih.
  4. Tinggi Tanda Panah 7.5 cm berwarna putih.

Syarat Pemasangan Tanda APAR / Tabung Pemadam pada kolom (tiang) bangunan :

Read more...